Postingan

Renungan

Setiap bayang tidak selalu cerminan realitas. Ia hanya tafsir, yang bisa menampakkan beribu kemungkinan. Ia tidak mutlak benar, juga belum tentu selalu salah. Maka berdebat tentang bayang hanya memperpanjang usia kebodohan. Pada saat demikian, bijaksana perlu bekerja, mendudukkan setiap bayang dengan penuh cinta dan kerendah-hatian, hingga masing-masing ia saling memahami secara paripurna.

Sajak-sajak Ungkapan Hati

Joyoism (2)

Joyoism (1)

Perihal Kau

Terima Kasih, Untukmu

Mencoba Memahami Mukiyo

Sepucuk Pesan untuk Ama

Belum Puaskah Kau?

Penari Striptis, Topeng, dan Kepentingan

Puisi Lima Kata*

Tuhan Maha Asik

Aku Memilih Nurani, Guru