Postingan

Renungan

Setiap bayang tidak selalu cerminan realitas. Ia hanya tafsir, yang bisa menampakkan beribu kemungkinan. Ia tidak mutlak benar, juga belum tentu selalu salah. Maka berdebat tentang bayang hanya memperpanjang usia kebodohan. Pada saat demikian, bijaksana perlu bekerja, mendudukkan setiap bayang dengan penuh cinta dan kerendah-hatian, hingga masing-masing ia saling memahami secara paripurna.

Obral Paras Cucu yang Gemas Demi Elektabilitas

Berjaya di Era 90-an, Kini 5 Klub Sepak Bola Ini Tinggal Nama

Demokrasi ala Werewolf

Senyum dari Surga untuk Perdamaian Bonek - Lamongan Fans

Tentang Rivalitas Bonek - Aremania di Penghujung Februari

Antara Saya dan ‘Saya’

Membaca Peluang Teroris Menggantikan ‘Peran’ Komunis di Indonesia (1)

Mencoba Memahami Mukiyo

Orisinalitas Berpikir dan Kapitalisasi Pendidikan

Konglomerasi Media dan Kebebasan Keblinger

Sastra dan Perjalanan Spriritual Penulis

Mengecam Pembunuhan Kebebasan Berekspresi

Jangan Remehkan Campur Tangan Tuhan

Merefleksikan Hardiknas: Ngomongin Mahasiswa

Diskrimasi Kulit Putih terhadap Kulit Hitam dalam Olahraga

Ironi Kehidupan di Negeri Pelupa

Konvergensi Tempo dengan New Media, Alternatif di Tengah Pembredelan