Postingan

Renungan

Setiap bayang tidak selalu cerminan realitas. Ia hanya tafsir, yang bisa menampakkan beribu kemungkinan. Ia tidak mutlak benar, juga belum tentu selalu salah. Maka berdebat tentang bayang hanya memperpanjang usia kebodohan. Pada saat demikian, bijaksana perlu bekerja, mendudukkan setiap bayang dengan penuh cinta dan kerendah-hatian, hingga masing-masing ia saling memahami secara paripurna.

Obral Paras Cucu yang Gemas Demi Elektabilitas

Tangis Silvia

Sebuah Upaya Membeli Ayah

Sajak-sajak Patah Hati

Sajak-sajak Ungkapan Hati

Gadis di Bekas Pertokoan

Tentang Dilan: Asmara, Kenakalan Remaja, dan Kenangan

Perihal Kau

Terima Kasih, Untukmu

Isak dari Tepian Brantas

Aku Rindu Hafalan Itu

Sepucuk Pesan untuk Ama

Belum Puaskah Kau?

Sastra dan Perjalanan Spriritual Penulis

Pesan dari Asisten Dosen Cantik

Puisi Lima Kata*

Iblis Kecewa*

Tidak, Aku Ikhlas Adinda

Mereka Lebih Beruntung

Mati untuk yang Sejati