Postingan

Renungan

Setiap bayang tidak selalu cerminan realitas. Ia hanya tafsir, yang bisa menampakkan beribu kemungkinan. Ia tidak mutlak benar, juga belum tentu selalu salah. Maka berdebat tentang bayang hanya memperpanjang usia kebodohan. Pada saat demikian, bijaksana perlu bekerja, mendudukkan setiap bayang dengan penuh cinta dan kerendah-hatian, hingga masing-masing ia saling memahami secara paripurna.

Obral Paras Cucu yang Gemas Demi Elektabilitas

Tangis Silvia

Demokrasi ala Werewolf

Senyum dari Surga untuk Perdamaian Bonek - Lamongan Fans

Sebuah Upaya Membeli Ayah

Tentang Rivalitas Bonek - Aremania di Penghujung Februari

Gadis di Bekas Pertokoan

Antara Saya dan ‘Saya’

Membaca Peluang Teroris Menggantikan ‘Peran’ Komunis di Indonesia (1)

Joyoism (2)

Joyoism (1)

Isak dari Tepian Brantas

Mencoba Memahami Mukiyo

Aku Rindu Hafalan Itu

Orisinalitas Berpikir dan Kapitalisasi Pendidikan

Konglomerasi Media dan Kebebasan Keblinger

Penari Striptis, Topeng, dan Kepentingan

Mengecam Pembunuhan Kebebasan Berekspresi

Mereka Lebih Beruntung

Protes Si Perut